those pics adalah di snap sekitar Amman...tengah-tengah bulan posa orang lain beramal ibadat. tapi kitorang bole merayap-rayap di tengah panas..sempat tengok keadaan-keadaan macamana dorang menghidupkan ramadhan di sini....tak sempat nak snap byk..ada lagi, tapi taruk yg ni jela di sini...
Monday, August 8, 2011
Corat-coret tentang gambar..
those pics adalah di snap sekitar Amman...tengah-tengah bulan posa orang lain beramal ibadat. tapi kitorang bole merayap-rayap di tengah panas..sempat tengok keadaan-keadaan macamana dorang menghidupkan ramadhan di sini....tak sempat nak snap byk..ada lagi, tapi taruk yg ni jela di sini...
Thursday, July 28, 2011
Terhubung ke Langit
~ditujukan khusus untuk Adik Mahfuzah..moga Allah menguatkan hatimu..
juga pada Ilyani, terima kasih kerana 'rasa' ini...~
berdirimu di waktu malam,
sujudmu yang dalam
mengukuhkan hatimu melebihi gunung membiru
lalu kau terima beban sebagai mencintai semesta;
membagi senyum ketika kau terluka,
memberi minum ketika kau dahaga,
menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka
Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari. Siang demi siang terasa panjang, melelahkan, dan menyesakkan dada. Ke sana kemari dia susuri Makkah dari hujung lain ke hujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku, untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.
Dia kadang terlihat di puncak Safa, membacakan ayat-ayat yang dibals caci maki dan hinaan yang menjijikkan dari bapa saudaranya sendiri. Dia kadang harus pergi, meninggalkan satu kaum dengan dilempari batu dan kotoran sambil diteriaki gila, dukun, penyihir, dan penyair hingusan. Dia kadang sujud di depan Kaabah, lalu seseorang akan menuangkan setimba isi perut unta ke kepalanya, atau menjeratkan selendang ke leher di saat ruku’nya. Dia kadang harus menangis dan menggumamkan ketidakberdayaan melihat sahabat-sahabatnya yang lemah dan diseksa di depan matanya. Kejam dan keji.
Dia sangat lelah. Jiwa mahupun raga. Dia sangat payah. Zahir mahupun batin. Tenaganya terkuras. Luar mahupun dalam. Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari, meski gulana tetap menghantuinya. Tetapi saat Khadijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justeru memaksanya terjaga.
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya, dan bacalah Quran dengan tartil” (Al-Muzammil: 1-4)
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (Al-Muzammil: 5)
Seberat apa?
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah” (Al-Hasyr: 21)
Itu kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya harus lebih kukuh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Kerana itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia solat.
“Solat” kata Sayyid Qutb dalam Tafsir Zilal, “Adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setitis air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realiti bumi yang kecil menuju realiti alam raya. Ia adalah angin,embun, dan awan di siang hari panas nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.”
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia solat.
Solat itu kewajiban baginya. Solat itu menjaganya dari kemungkaran dan kekejian. Dia ruku’. Maha Agunglah Allah dan dia memuji Ilahi. Lalu Allah mendengarkan orang yang memujiNya, dan menjawab derap-derap permohonannya yang menggelora. Dia sujud. Maha Tinggilah Allah. Dan, dia merasakan betapa dekatnya, betapa mesranya, betapa asyiknya bicara pada Rabbnya dalam hening, mengadu, berkeluh, berkisah tentang segalanya. Tentang beratnya tugas, tentang lemahnya daya dan kekuatannya.
Lalu dia memohon kekuatan agar mampu mengemban amanahnya itu. “Ya Raabi” lirihnya, “KepadaMu kuadukan lemahnya dayaku, kurangnya tenagaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Rabb pada orang-orang yang lemah. Engkaulah Rabbku…Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan yang kerananya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murkaMu kepadaku..tiada daya dan kekuatan kecuali dariMu.
”
Maka Allah menjawabnya, mencurahkan rahmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah=lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali-Imran: 159)
Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu mewarisi keteguhan Sang Nabi. Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu dicurahi rahmatNya hingga mampu berlemah-lembut pada sesama. Dalam dekapan ukhuwah, kita bercita-cita dipuji Allah seperti Sang Nabi, “Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”
Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu mempertahankan mereka di garis edar kebajikan, bahawa mereka wakil sah dari kebenaran.
Dalam dekapan ukhuwah, Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Kisahnya diulang-ulang untuk menguatkan hati.
Sejarah terhubungnya langit dan bumi membentang panjang. Mulai dari Nuh yang tak jemu-jemu menyeru kaumnya selama lima ratus tahun. Dengan segala cara. Sembunyi-sembunyi mahupun terang-terangan. Seorangan mahupun ramai. Peribadi ke peribadi mahupun secara berkumpulan.
Lalu Ibrahim yang menebas keberhalaan dengan kapak kecerdasan. Ibrahim yang membungkan raja pengaku tuhan dengan hujjah tak terbantah. Ibrahim yang menginsafkan para penyembah bintang, rembulan, dan matahari dengan bahasa lembut menghanyutkan.
Lalu Musa dengan liku-liku perjalanan hidupnya.
Lalu Isa dengan pernik-pernik kisahnya
Lalu…Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam
Salah satu mata rantai dari para pengibar Tauhid di pentas sejarah itu adalah Yunus, ‘alaihis salaam. Dan kisahnya mengajarkan pada kita, bahawa dalam dekapan ukhuwah, Allah begitu mencintai orang-orang yang terhubung ke langit ini, hingga tak membiarkan mereka sedikit pun terlepas dari pelajaran untuk memiliki akhlak dan perilaku mulia. Dalam dekapan ukhuwah, Allah ingin tiap manusia yang terhubung ke langit menuntaskan tugasnya hingga sempurna kerana bersamaan dengan itu disempurnakan pula didikan Rabbani pada karekter peribadinya. Jika dia meninggalkannya sebelum tuntas, Allah akan gunakan cara lain untuk mendidikkan kemuliaan padanya.
Yunus mungkin tercatat sebagai orang yang gagal. Dia meninggalkan kaumnya dengan marah, sesak hati dan sempit dada sebelum Allah mengizinkannya. Dia pergi. Dan kita sudah hafal kisah selanjutnya; dia naik kapal, dibuang ke laut, dan ditelan ikan Nun.
Allah ingin mendidik Yunus untuk sabar menghadapi manusia dan teguh membaw mereka ke jalan taqwa. Allah ingin mendidiknya agar tak mudah menyerah dan mengerahkan beberapa tingkat lagi daya upaya. Tapi Yunus dibakar perasaan. Dia tinggalkan kaumnya. Maka Allah menyempurnakan pendidikan langit untuknya agar bersabar dengan sebuah musibah. Ditelan ikan. Hidup dalam kegelapan. Saat itulah dia insaf kembali dengan doa yang kita kenang hingga kini, “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang membuat aniaya.”
Ketika pendidikan langit untuk bersabar dia tuntaskan, dia kembali kepada kaumnya dengan semangat yang menyala. Dia datang untuk menyeru mereka ke jalan cahaya dengan keteguhan yang telah dia siapkan berlipat jumlahnya. Tapi Allah telah menyempurnakan pendidikannya, maka baginya hadiah yang membahagiakan. Saat dia kembali semua kaumnya telah beriman. Dan kini, tugasnya tinggal memimpin dan membimbing mereka mengabdi pada Allah, dalam dekapan ukhuwah.
Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang berwujud dakwah. “Dakwah adalah cinta,” kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang ummah yang kau cintai.
juga pada Ilyani, terima kasih kerana 'rasa' ini...~
berdirimu di waktu malam,
sujudmu yang dalam
mengukuhkan hatimu melebihi gunung membiru
lalu kau terima beban sebagai mencintai semesta;
membagi senyum ketika kau terluka,
memberi minum ketika kau dahaga,
menghibur jiwa-jiwa ketika kau berduka
Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari. Siang demi siang terasa panjang, melelahkan, dan menyesakkan dada. Ke sana kemari dia susuri Makkah dari hujung lain ke hujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku, untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.
Dia kadang terlihat di puncak Safa, membacakan ayat-ayat yang dibals caci maki dan hinaan yang menjijikkan dari bapa saudaranya sendiri. Dia kadang harus pergi, meninggalkan satu kaum dengan dilempari batu dan kotoran sambil diteriaki gila, dukun, penyihir, dan penyair hingusan. Dia kadang sujud di depan Kaabah, lalu seseorang akan menuangkan setimba isi perut unta ke kepalanya, atau menjeratkan selendang ke leher di saat ruku’nya. Dia kadang harus menangis dan menggumamkan ketidakberdayaan melihat sahabat-sahabatnya yang lemah dan diseksa di depan matanya. Kejam dan keji.
Dia sangat lelah. Jiwa mahupun raga. Dia sangat payah. Zahir mahupun batin. Tenaganya terkuras. Luar mahupun dalam. Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari, meski gulana tetap menghantuinya. Tetapi saat Khadijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justeru memaksanya terjaga.
“Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya, dan bacalah Quran dengan tartil” (Al-Muzammil: 1-4)
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (Al-Muzammil: 5)
Seberat apa?
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu melihatnya tunduk terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah” (Al-Hasyr: 21)
Itu kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggung. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya harus lebih kukuh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa daripada bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Kerana itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia solat.
“Solat” kata Sayyid Qutb dalam Tafsir Zilal, “Adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setitis air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realiti bumi yang kecil menuju realiti alam raya. Ia adalah angin,embun, dan awan di siang hari panas nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.”
Maka Sang Nabi pun bangkit. Dia solat.
Solat itu kewajiban baginya. Solat itu menjaganya dari kemungkaran dan kekejian. Dia ruku’. Maha Agunglah Allah dan dia memuji Ilahi. Lalu Allah mendengarkan orang yang memujiNya, dan menjawab derap-derap permohonannya yang menggelora. Dia sujud. Maha Tinggilah Allah. Dan, dia merasakan betapa dekatnya, betapa mesranya, betapa asyiknya bicara pada Rabbnya dalam hening, mengadu, berkeluh, berkisah tentang segalanya. Tentang beratnya tugas, tentang lemahnya daya dan kekuatannya.
Lalu dia memohon kekuatan agar mampu mengemban amanahnya itu. “Ya Raabi” lirihnya, “KepadaMu kuadukan lemahnya dayaku, kurangnya tenagaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Rabb pada orang-orang yang lemah. Engkaulah Rabbku…Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan yang kerananya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murkaMu kepadaku..tiada daya dan kekuatan kecuali dariMu.
”
Maka Allah menjawabnya, mencurahkan rahmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah=lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Ali-Imran: 159)
Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu mewarisi keteguhan Sang Nabi. Dalam dekapan ukhuwah, kita rindu dicurahi rahmatNya hingga mampu berlemah-lembut pada sesama. Dalam dekapan ukhuwah, kita bercita-cita dipuji Allah seperti Sang Nabi, “Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”
Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan menghadapi kebengalan sesama titah. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling santun, paling ramah, dan paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu mempertahankan mereka di garis edar kebajikan, bahawa mereka wakil sah dari kebenaran.
Dalam dekapan ukhuwah, Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Kisahnya diulang-ulang untuk menguatkan hati.
Sejarah terhubungnya langit dan bumi membentang panjang. Mulai dari Nuh yang tak jemu-jemu menyeru kaumnya selama lima ratus tahun. Dengan segala cara. Sembunyi-sembunyi mahupun terang-terangan. Seorangan mahupun ramai. Peribadi ke peribadi mahupun secara berkumpulan.
Lalu Ibrahim yang menebas keberhalaan dengan kapak kecerdasan. Ibrahim yang membungkan raja pengaku tuhan dengan hujjah tak terbantah. Ibrahim yang menginsafkan para penyembah bintang, rembulan, dan matahari dengan bahasa lembut menghanyutkan.
Lalu Musa dengan liku-liku perjalanan hidupnya.
Lalu Isa dengan pernik-pernik kisahnya
Lalu…Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam
Salah satu mata rantai dari para pengibar Tauhid di pentas sejarah itu adalah Yunus, ‘alaihis salaam. Dan kisahnya mengajarkan pada kita, bahawa dalam dekapan ukhuwah, Allah begitu mencintai orang-orang yang terhubung ke langit ini, hingga tak membiarkan mereka sedikit pun terlepas dari pelajaran untuk memiliki akhlak dan perilaku mulia. Dalam dekapan ukhuwah, Allah ingin tiap manusia yang terhubung ke langit menuntaskan tugasnya hingga sempurna kerana bersamaan dengan itu disempurnakan pula didikan Rabbani pada karekter peribadinya. Jika dia meninggalkannya sebelum tuntas, Allah akan gunakan cara lain untuk mendidikkan kemuliaan padanya.
Yunus mungkin tercatat sebagai orang yang gagal. Dia meninggalkan kaumnya dengan marah, sesak hati dan sempit dada sebelum Allah mengizinkannya. Dia pergi. Dan kita sudah hafal kisah selanjutnya; dia naik kapal, dibuang ke laut, dan ditelan ikan Nun.
Allah ingin mendidik Yunus untuk sabar menghadapi manusia dan teguh membaw mereka ke jalan taqwa. Allah ingin mendidiknya agar tak mudah menyerah dan mengerahkan beberapa tingkat lagi daya upaya. Tapi Yunus dibakar perasaan. Dia tinggalkan kaumnya. Maka Allah menyempurnakan pendidikan langit untuknya agar bersabar dengan sebuah musibah. Ditelan ikan. Hidup dalam kegelapan. Saat itulah dia insaf kembali dengan doa yang kita kenang hingga kini, “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang membuat aniaya.”
Ketika pendidikan langit untuk bersabar dia tuntaskan, dia kembali kepada kaumnya dengan semangat yang menyala. Dia datang untuk menyeru mereka ke jalan cahaya dengan keteguhan yang telah dia siapkan berlipat jumlahnya. Tapi Allah telah menyempurnakan pendidikannya, maka baginya hadiah yang membahagiakan. Saat dia kembali semua kaumnya telah beriman. Dan kini, tugasnya tinggal memimpin dan membimbing mereka mengabdi pada Allah, dalam dekapan ukhuwah.
Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang berwujud dakwah. “Dakwah adalah cinta,” kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang ummah yang kau cintai.
Friday, June 10, 2011
Buku-buku yang sedang dibaca
Ini adalah buku-buku yang sedang aku baca (kadang-kadang buku pun baca aku juga)..ada beberapa buah buku yang aku dah khatam..buku-buku Dr. Aaidh Al-Qarny mostly aku dah khatam...
Alahai, kan best kalau ada sapa-sapa yang nak pos ke aku buku-buku dari Malaysia..selama ni asyik tengok kat internet je....kalau dapat yang real kan bagus...
p/s : wishlist tahun ni nak buku banyak0-banyak..
Thursday, June 9, 2011
Jatuh Chenta
Dalam banyak-banyak disiplin ilmu yang aku tengah belajar, aku paling suka belajar tentang Sirah Nabawiyah. Baru sekarang ni kot rasanya aku baru perasan yang aku memang sukaaaa la sangat..JATUH CHENTA la orang dulu-dulu katakan..
Tak silap aku..yang aku jadi syiok bebenor kat Sirah Nabawiyah bila aku start baca buku MANJAH HARAKI LI SIRAH NABAWIYAH...penulis dia Syeikh Munir Al-Ghadban. Masa tu la yang aku rasa, best sangat bila baca buku tu. Pergi ke mana-mana memang aku kelek buku tu merata-rata.
Pas aku habis baca buku tu, aku start tengok Program Lau Kaana Bainana. Sebelum ni aku tengok camtu-camtu je..aci bajet konon takde masa la..hahahah~~ aku tengok masa penghujung 2010..siyes, masa tengok 15 episod pendek straight tu, tangkap leleh aku tengok. Memang sayu je aku rasa...sekarang ni da tayang da kat tivi Lau Kaana Bainana musim kedua..jenuh aku carik kat tenet manala nak sedut..alhamdulillah...jalan punya jalan, aku akhirnya jumpa jugak. Sekarang ni tengah episod ke-6 (sapa nak link boleh bagitau ye)
Baru-baru ni, masa pergi Zarqa, aku borong 5 kitab sirah...penangan tengok Lau Kaana Bainana punya pasal...pergi la jugak cari kitab-kitab yang ada sebut dalam rancangan tu. Cari buku lain, terjumpa buku lain..takpela..as long ada kaitan dengan apa yang aku nak cukup...
Aku plan nak kumpulkan kitab-kitab sirah yang jarang orang tahu..tapi banyak sangat pengajaran dan ibrah..
Oh Allah...perkenankan hajat aku ni...
Tak silap aku..yang aku jadi syiok bebenor kat Sirah Nabawiyah bila aku start baca buku MANJAH HARAKI LI SIRAH NABAWIYAH...penulis dia Syeikh Munir Al-Ghadban. Masa tu la yang aku rasa, best sangat bila baca buku tu. Pergi ke mana-mana memang aku kelek buku tu merata-rata.
Pas aku habis baca buku tu, aku start tengok Program Lau Kaana Bainana. Sebelum ni aku tengok camtu-camtu je..aci bajet konon takde masa la..hahahah~~ aku tengok masa penghujung 2010..siyes, masa tengok 15 episod pendek straight tu, tangkap leleh aku tengok. Memang sayu je aku rasa...sekarang ni da tayang da kat tivi Lau Kaana Bainana musim kedua..jenuh aku carik kat tenet manala nak sedut..alhamdulillah...jalan punya jalan, aku akhirnya jumpa jugak. Sekarang ni tengah episod ke-6 (sapa nak link boleh bagitau ye)
Baru-baru ni, masa pergi Zarqa, aku borong 5 kitab sirah...penangan tengok Lau Kaana Bainana punya pasal...pergi la jugak cari kitab-kitab yang ada sebut dalam rancangan tu. Cari buku lain, terjumpa buku lain..takpela..as long ada kaitan dengan apa yang aku nak cukup...
Aku plan nak kumpulkan kitab-kitab sirah yang jarang orang tahu..tapi banyak sangat pengajaran dan ibrah..
Oh Allah...perkenankan hajat aku ni...
Wednesday, May 18, 2011
Penagih Dadah...
Sekarang ni keadaan diri aku mewajibkan aku
untuk tiap-tiap hari kena ambil ubat..
dan tiap-tiap hari juga la
badan rasa menggeletar sejuk panas..
pastu macam tak cecah kaki ke dunia..
menerawang entah ke mana..
kalau tak ambil..
sangat-sangat rasa tak sedap badan..
ambil pula...
rasa macam PENAGIH DADAH..
jangan tanya aku ambil ubat apa..
sakit apa..dan sebagainya...
sebab aku pun tak tahu nak beritahu orang cemana...
nak-nak pulak sekarang ni musim peperiksaan
ambil ubat-ubat ni menyebabkan aku sedikit
'tak berapa nak endah' tentang study aku..
Allah...
tak larat nak kena telan ubat tiap-tiap hari..
p/s: mahu beralih kepada Tibb An-Nabawi...
Saturday, May 7, 2011
Cerita Tentang Ayah..
Tahun ni, genap umur ayah 50 tahun...
ayah bukan kuat tenaga macam dulu
kalau dulu...
drive sorang-sorang MANJUNG-JOHOR BAHRU pun takpe
sekarang...
mengharapkan bantuan anak-anak untuk drive
Ayah selalu sakit kaki sebab GOUT..
dari zaman kami kecil-kecil lagi
ayah dah lama 'menderita' dengan sakit GOUT..
dan sekarang...
Allah uji ayah dengan kesakitan kaki juga..
Ayah rupa-rupanya kemalangan hari khamis hari tu..
balik dari kerja, nak kona singgah beli goreng pisang
untuk buat minum petang kat rumah..
alih-alih kemalangan..
padahal kalau kira, ayah bawa motor jenis yang cermat..
Benda nak jadi, nak buat apa kita untuk merubah kuasa Tuhan?
dan..ayah juga rupanya tak bagi anak-anak dia tahu langsung
pasal kemalangan ni..
mujurlah Bangchik baca fb ayah..dan tertengok satu gambar kepunyaan kawan ayah..
bila telefon je ibu..
masa tu lah baru ibu cerita pasal perkara ni.
dan dari sini la baru aku tahu...
kalau tak, sampai bila-bila aku takkan tahu..
Ayah..moga segera sembuh..
k.long serahkan ayah, ibu dan adik-adik dalam jagaan Allah..
kerana itulah sebaik-baik jagaan..
Thursday, May 5, 2011
Cerita Tentang Ibu...
Ni gambar aku dengan ibu (bersama adik arwah nenek)
gambar ni masa raya tahun lepas, tahun yang aku balik Malaysia
bila aku check balik banyak-banyak gambar,
rupanya ada beberapa keping je gambar yang aku tangkap dengan ibu
tak banyak pun gambar aku dengan ibu..
tak sampai 10 keping pun..
Bohonglah kalau aku tak sayangkan ibu..
tapi, bohong jugalah kalau aku tak pernah lukakan hati ibu
ada satu persoalan selalu main dalam kepala otak aku..
kenapa mesti kita selalu sakitkan hati orang yang kita sayang
dengan perangai kita yang dia tak suka??
Dalam ramai-ramai anak ibu..
aku la yang selalu buat ibu 'tinggi suara'
selalu je 'naikkan darah' ibu..
selalu buat ibu rasa geram bila dengan aku..
sampai ibu pun pernah cakap dengan someone kenalan aku..
"dia balik ni asyik cari gaaaaduh je dengan mak dia"
tak pernah ibu keluar kenyataan tu dengan kawan-kawan adik-adik aku
adik-adik lelaki aku pun jarang buat ibu rasa macam tu
tapi..aku la yang selalu buat ibu rasa menjeruk hati.
orang kata..hati kita lagi luka bila melukakan orang juga..
yup..!! itulah sebenarnya yang aku rasa
bila aku buat ibu terluka dan terus terluka dengan diri aku sendiri...
pernah ke ada sapa-sapa yang nak cari pasal dengan mak sendiri?
aku yakin, memang tak pernah samada secara sengaja mahupun tak..
dan aku sendiri..memang tak pernah ada niat nak menyakitkan
hati sapa-sapa terutama sekali dengan ibu masing-masing..
antara hikmah besar Allah campakkan aku jauh sangat
dari pandangan dan jagaan keluarga..
mungkin disebabkab perkara ni..asyik buat mak ayah sakit hati je
maknanya...aku tak boleh duduk dekat dengan diorang
kalau tak nanti, mesti lagi banyak dosa aku
makin dekat, makin diorang selalu marah ..
jauhnya aku dengan keluarga..mengurangkan lagi penambahan
dosa-dosa yang dah sedia ada kat bahu kiri aku..
Banyak benda yang kalau ibu bagi dan buat untuk aku,
aku memang sayang sangat-sangat..
antaranya dulu..ibu pernah belikan aku jam (pertama kali aku rasa)
ibu hadiahkan aku bingkai cermin mata baru (takla mahal macam orang lain)
selepas hampir 3 tahun aku pakai cermin mata harga RM15
yang tak silap, aku beli kat Pasar Pagi KKB
ibu buatkan untuk aku sambal goreng malam sebelum balik
itu la satu-satunya makanan yang aku tak pelawa orang lain makan sekali
sebab sayang...ibu buat sendiri untuk aku...
aku makan pun dikit-dikit..sayang nak habiskan semua
ibu bagi kain telekung..aku guna dari form 1(aku rasa sayang sangat)
biar la orang nak kata kain telekung aku lusuh ke..
dah boleh buat kain lap dapur ke dan sebagainya..
selagi benda tu dari ibu..
aku tetap sayang..
sebab ibu aku jarang nak memberi macam orang lain.
jadi bila dah dapat..aku akan hargai sungguh-sungguh
Aku ingat lagi masa aku dalam kelas..
Dr.Mohd Khateeb cerita tentang kisah Ashaabul A'raaf..
masa tu diceritakan bahawa golongan ni ada minta amalan
pada mak mereka..
tapi, mak mereka taknak bagi..
sebab masing-masing masa hari hisab tu,
tak cukup amalam untuk menyebabkan masuk ke syurga..
Terus aku menangis bila DR sebut tentang minta amalan dengan mak tu..
air mata aku memang berjujur-jujuran keluar dalam kelas tu
aku terfikir-fikir..tersentap...tertanya-tanya..
"ya allah...macam tu juga ke nanti ibu dengan aku masa dekat Hisab? mesti ibu juga takkan sanggup nak bagi amalan dia untuk aku kalau aku dalam keadaan macamtu"
Sungguh...
aku sayangkan ibu aku..
biarpun aku la anak dia yang selalu sangat menyakitkan hati dia
berbanding adik-adik aku yang lain.
dan biarpun ibu ada anak-anak yang lain untuk diberikan
perhatian, kasih sayang, doa, rahmat, dan yang lain-lain lagi..
aku tetap hanya punya seorang ibu..
Allah tak anugerahkan aku ramai ibu..
tapi sorang je ibu..
SORANG JE..!!
yang sorang ni la yang sakit 3 hari 3 malam
nak melahirkan aku..yang membesarkan aku..
yang ajar aku baca, ngira dan ngaji (biarpun aku la yg paling lambat pickup)
yang kadang-kadang menceritakan pengalaman masa silamnya dulu pada kami..
supaya mengambil pengajaran dan ibrah untuk kehidupan akan datang..
Makanya...harusnya..wajibnya...
aku untuk menyayangi ibu yang dah semakin tua ini dengan sepenuh hati..
Ya Allah..saksikan...saksikankah Ya Allah..
sesungguhnya aku sayang kepada ibuku keranaMU ya Allah...
"Ya Allah, ampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua ibu bapaku..dan rahmatilah mereka..sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi dan merahmatiku semasa aku kecil.."
Subscribe to:
Posts (Atom)